Rabu, 16 Maret 2011

cirebon dari atas attaqwa square lt.13






here are my pics taken from 13th floor in attaqwa square, Cirebon, West Java, Indonesia!

must be nice if saw by your eyes-self

jika kamu melihat laut, maka itu adalah poto cirebon dari arah timur

jika melihat titik kecil dari jauh sana, maka itu adalah hotel Apita, yang katanya paling tinggi se-Cirebon

dan..
hah?
poto saya lupa tek masukin, entah apa yang terjadi, tapi kok cuma bisa masukin 5 poto yah?
hmmm, ya sudah..
maka tak rugi bagi anda untuk mengunjungi Cirebon, dan lihat apa saja yantg bisa kau lihat dari tower masjid attaqwa

keren kan?

oh yah,, ini gamabar-gambar yang saya ambil dengan kamera handphone nokia 2700classic
maka
besar kemungikana jika anda menggunakan kamera bagus, maka hasilnyapun pasti lebih bagus

salam damai buat kita semua.

Menulis itu sangat sulit, jangan coba-coba!


Menulis itu sangat sulit, jangan coba-coba!

Kenapa?

Karena memang lebih mudah membaca daripada menulis.

Apa saja yang menyebabkan menulis itu susah?

Pengalaman saya, menulis itu sangat susah, karena: harus memilah-milah kata yang tepat, atur pola aktf-pasif dalam kalimat, milih gaya tulisannya (serius, santai, dll) memperkirakan apakah koheren anatara paragraph satu dengan lainya, dan sebagainya.

Dan benar adalah menulis itu yah mengedit tulisan itu sendiri, huff

Bagaimana bisa menulis itu sangat sulit, dan jangan coba-coba?

Yah, dipastikan memang kegiatan menulis itu susah dilakukan bagi yang tidak biasa dan tidak benar-benar ingin menulis, jadi pasti sering frustasinya. Dan banyak banget yang mengaku suka nulis tapi gak pernah nulis, itu kenapa? Karena menulis memang bikin frustasi, pegel-pegel nulis, eh banyak yang salah dan kudu di-edit sana-sini, dan bukannya semakin baik malah tambah kurang disana-sini. Duh, daripada nulis yang susah begitu, mending baca saja, yah? *membujuk

Kapan itu Menulis itu sangat sulit, dan jangan coba-coba?

Saat menjadi penulis pemula itu sangat sulit untuk menulis, ide sih iya udah banyak banget, namun kaya ngluarin air dalam plastik bening terikat kuat, ditekan-tekan tuh sangat sulit dan biki frustasi, jadi jangan coba-coba bercita-cita menjadi penulis kalo memang gak siap frustasi di perjuangan awal, toh membaca lebih aman *smile

Dimana letak Menulis itu sangat sulit, jangan coba-coba? Saat di perjuangan awal dan saat memutuskan menjadi penulis itu sangat sulit untuk diwujudkan, jadi tidak untuk dicoba

Siapa itu Menulis itu sangat sulit, jangan coba-coba? Mereka yang pemula dan gak siap sepenuhnya jadi penulis, jadi jangan coba-coba yah, tho membaca juga jarang, kalo lagi terpaksa banget ajah *smile

Namun

Saya sendiri, Muhammad Najmudin seorang yang bercita-cita menjadi penulis, ya at least sekedar sumbang ide dalam tulisan atau katakanlah curhat dalam tulisan, memang benar adanya nememui kesulitan dalam menulis, dimulai dari mencari kata yang pas, memutuskan memakai kalimat aktif atau pasif, menggunakan gaya tulisan serius atau lebay-alay, menggunakan gaya tulisan akrab atau sekedar satu arah, dan berbagai kendala lainya.

Maka saya sangat setuju dan mengakui bahwa Menulis itu sangat sulit, jangan coba-coba untuk memulainya. Namun, saya tidak peduli akan hal itu, masa bodoh dengan jargon tadi, yang penting saya mau berusaha dan menghasilkan karya. Baik tidaknya karya saya, urusan nanti, yang penting menulis.

Mari menulis

*tulisan ini telah naik baca-edit dari dan oleh saya beberapa puluh kali, dan ahirnya saya post kan ke blog ini. Silakan tinggalkan komentar

Saya Bukan Pemalas


Saya Bukan Pemalas

Pertama kali saya membaca, “Saya Bukan Pemalas” mendadak darah saya deras mengalir dan detak jantung saya bertambah cepat. Yang jelas, saya mendadak sangat positive, berfikir positive. Jika bertanya dari mana saya mendapatkan kalimat tersebut? Saya mendapatkannya dari blog teman saya.

Teman saya yang bernama lengkap Faris Azhar yang sekarang tercatat sebagai mahasiswa teknik di ITS Surabaya mengirimi pesan ke saya bahwa saya harus aktif menulis di blog lagi karena dia telah memfolllow saya. Kemudian saya cek dan ternyata benar, dan secara ajaib mata saya tertuju pada sebuah kalimat di ID google dia, “Saya Bukan Pemalas” atau malah kata-katanya bukan seperti itu yah? Yang jelas mengarah ke sana lah.

Memang benar adanya bahwa sebuah kalimat mampu mengubah kondisi mood seseorang, apalagi jika dibaca secara berkala dan rutin. Dan dalam kasus ini saya juga benar-benar merasakannya. Sejak membaca mantra tersebut saya langsung membayangkan jadwal dan tugas-tugas yang harus saya kerjakan plus tenggat waktu yang harus dipatuhi.

Maka, saya mengajak semua pembaca, saudara kerabat untuk mencamkan baik-baik mantra ini, “SAYA BUKAN PEMALAS” dan semangat yang mengalir dalam diri anda.

Atau jika masih belum berhasil, saat anda berkenalan dengan orang-orang baru, kenalkan diri anda dengan percaya diri, secara tambahkan “…. Dan Saya Bukan Pemalas”

Tulislah mantra tersebut dibawah basmalah (jika anda muslim) di awal setia buku anda, baik bon hutang, buku pelajaran, buku bacaan atau bahkan diary kesayangan anda. Tulislah mantra tersebut di dinding kamar anda dengan font yang sangat besar dan rasakan perubahannya.

Jika anda banyak tugas, lelah, putus asa, atau sekedar merasa terlalu lama untuk duduk melamun, maka ingatlah kalimat, “Saya Bukan Pemalas!”

Kenapa harus kaliamat “Saya Bukan Pemalas!” ?

Karena, menurut saya, kalimat, “ingat target” atau “deadline target A, B, C, …” itu hanya sebagai pengingat, bukan penyemangat, dan jika kita sedang cape, malah membaca kalimat tadi hanya membuat kiata merasa tertekan, tebebani dan mungkin tidak total yah.

Bagaimana dengan kalimat “plan A, B, C, ...” ? Boleh, sangat baik. Namun, bagi saya yang memang mempunyai sifat dasar pemalas akan selalu menunda-nunda untuk mewujudkan plan yang telah saya rancang rapi, jadi menurut saya memang kalimat “Saya Bukan Pemalas!” bukan sebatas kalimat berpola subjek-predikat namun memang sebuah mantra menuju kegairah hidup nan menggelora, bersemnagat dan positive.

Benar adanya, saya bukan pemalas.

Saya rajin, tidak malas, dan begitupula dengan anda.

maaf, ya mas, saya sudah bisa mencari makan sendiri


Saya ingin membagi pengalaman dalam mengabil gambar ini, gambar ini saya ambil di pekan pertama bulan maret 2011. Saya ambil saat saya di dalam kopayu, perjalanan menuju kampus. Kejadiannya sekitar pukul 12.45 WIB.

Awalnya saya mengira anak tersebut akan atau malah telah pentas disebuah ajang pentas seni atau lomba antar SD, namun, nampaknya saya keliru, karena beberapa kursi di depan, Nampak sepasang (yang nampaknya pasutri) juga mengenalan baju pentas.

Kopayu yang saya tumpangi saat itu sedikit penuh, namun sampai ahirnya surut juga di daerah pasar minggu, Palimanan.

Wah, pikiran iseng saya muncul nih buat nanya-nanya dan ngorek info dari dia. Saya ingin tahu siapa namanya dan ada apa dengan kostumnya. Namun, “De, abis pentas dimana?”, saya tanya. *melesat jauh dari draft pertanyaan saya begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Kemudian dia menjelaskan bahwa dia berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi dengan pakaian pentasnya. Saya terkaget saat dia menjelaskan bahwa yang duduk di depan sana bukanlah orang tua dia, melainkan sepupu-sepupunnya (om dan tantenya), mereka pentas di daerah Jatibarang Indramayu dari pukul 7 sampai denagn 11 pagi.

Dia berusia 10 tahun dan meninggalkan sekolah saat masih kelas 5 SD. Ibunya mendapatkan makan dengan menjadi buruh cuci baju di daerah terminal Harjamukti Cirebon. Perihal ayahnya dia hanya senyum-senyum. Dan semenjak pertanyaan mengenai ayahnya, tiap kali saya tanya (apapun) dia hanya tersenyum. *duh salah nanya.

Bukan, bukan maksud saya akan mendramatisir kondisi dia sekarang, sistem pendidkan Indonesia, atau sisitem pemerintah yang menjadikan dia begitu dan atau mengenai takdir. Bukan, bukan itu semua.

Saya tidak merasa miris denagn kondisi, katakanlah saya gak punya hati. Namun, kenapa saya harus miris? Dia yang menjalan saja happy-happy saja kok. Lha pendidikannya? *Ah urusan dia, orang tuanya dan Tuhan lah.

Saya melihat fenomena ini malah merasa kasihan dengan diri sendiri. Nah lho?. Jelas lah kasihan, dia yang masih berusia setengah dari umur saya, sudah dengan bangga menyatakan, “maaf, ya mas, saya sudah bisa mencari makan sendiri!”

Nah saya? *Ah, gampang, Mu. Tuh meja makan dekat, cari makan sendiri yah.

Bagaimana dengan Anda?