Lebih lanjut, permainan persepsi mengantarkan saya ke lebih banyak pandangan hidup, pola pikir serta tujuan dari suatu kegiatan tertentu.
Misal, ada dua orang yang sama-sama gemar beribadah, namun setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata kedua goal orang tersebut sangatlah berbeda, yang pertama tergila-gila dengan namanya pahala yang lainnya hanya mementingkan apakah perbuatannya itu mendapat ridho dari sang Maha Pencipta.
Di kampus, saya menemukan kasus serupa namun tak sama, satu golongan benar-benar rajin dan sangat sensitif dengan nilai IP mereka, sedangkan yang lainnya sangat santai menaggapi IP mereka. Namun usaha belajar mereka sama besarnya dan sama ngototnya untuk bisa. Saya lebih senang menyebutnya geng score-oriented dan geng pure knowledge-oriented.
Memang semua presepsi itu bermuara kepada cara kita memilih kata-kata dalam mengobrol juga, semisal saat kita benar-benar ingin membantu namun tidak tahu apakah kita bisa benar-benar membantu atau tidak, mungkin sebagian dari kita biasa mengatakan, “ okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” ada juga yang lebih suka mengatakan, “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” keduanya memang bertujuan sama ingin membantu, namun pertanyaan pertama menybabkan lawan bicara kita sedikit merasa ada awan gelap di masa depannya, dan pertanyaan kedua mampu membangkitkan semangat keduanya, ya memang kedua-duanya tidak pasti kedepannya, apakah memenemukan solusi baik atau tidak, setidaknya memang sedikit terbukti, cara berfikir kita menyebabkan cara kita memilih kata-kata juga saat mengobrol.
Lebih lanjut tentang pernyataan “okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” dan “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” memang bermata dua macam pisau, disisi lain pernyataan pertama memang ada semacam perasaan sedikit enggan untuk membantu dan merasa bahwa orang yang meminta bantuan tidak begitu dianggap penting dalam kehidupannya. Sedangkan pernyataan kedua mungkin bertujuan lebih dari pada sekedar membantu, namun juga menawarkan perasaan nyaman dan berkawan.
Yah, itulah presepsi, dan nampaknya presepsi orang tidak mungkin kita paksa agar mendekati sama seperti kita, namun kita bisa mengusahakannya dengn saling silang perdapat agar bisa saling memahami dan menghargai.
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, bahwa disebutkan, “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Senin, 08 Agustus 2011
Bermain Dengan Persepsi I
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, disebutkan bahwa “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali diasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.”
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Rabu, 03 Agustus 2011
Terimaksih Teman Superiorku
Saya punya teman yang secara nilai tes IQ memang menunjukan bahwa dia berIQ superior. Namun, di mata saya dia lebih sekedar orang yang mempunyai kertas Test IQ bertuliskan SUPERIOR karena dia memang salah satu sahabat saya.
Kami mulai kenal saat memasuki kelas 10 di sebuah sekolah madrasah aliyah negri. Awal perkenalan kami dimulai saat saya membacaka sebuah pisi tentang uang di depan kelas. Dan dihari itu juga lah kami mulai berkenalan. Kami satu kelas tepatnya.
Kami mulai akrab dan sering mengorbol. Puncaknya saat guru Biologi kami cuti untuk melahirkan dan diganti oleh guru lain, saat itulah kami suka membicarakan tentang masa depan dan mimpi-mimpi kami. Candida albinacos adalah hal pertama yang kami bicarakan karena penjelasa sang guru pengganti yang menarik minat kami untuk mempelajari biologi.
Kami mulai bercelonteh tentang mimpi-mimpi indah kehidupan kampus, ITS merupakan tempat yang ingin kami capai karena melihat ada kakak tingkat yang berhasil lolos ke ITS melalui jalur beasiswa. Dan teknik biologi adalah pilihan saya. Saat kelas 2 atau kelas tiga adalah saat betapa saya merasa bodoh, karena tidak ada itu yang namanya candida albinacos dalam dunia Biologi, yang ada adalah candida albicans.
Dan sayapun sadar bahwa belum ada atau tidak ada itu prodi teknik biologi di ITS Surabaya. Yah entahlah, teman saya si superior hanya mengiyakan dan memanasi mimpi-mimpi saya. Sampai ahirnya di penghunjung tahun kelas 3 saat pemilihan perguruan tinggi dan PMDK berlangsung saya sadar betapa memang teman saya itu superior. Dia diterima di ITS lewat jalur Beasiswa DEPAG sedangkan saya tidak lolos.
Sekarang, kami sedang menikmati liburan naik tingkat tiga atau menuju tahun ke-tiga di perguruan tinggi di kota masing-masing. Saya kuliah di Unswagati Cirebon dengan prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan teman saya mengambil prodi teknik sipil ITS Surabaya masih berteman dan bersahabat baik.
Malam ini dia memberikan pandangaannya tentang menulis melalui pesan singkat. Pernah memang suatu ketika saya memposting, “imabangi membaca dengan menulis” dia menurunkannya menjadi “jika membaca itu semudah mendengar, maka menulis itu akan semudah berbicara”.
Saya merasa sangat kelu seketika membaca pesan singkatnya, karena blog saya terbengkalai bertahun-tahun, sedangkan dia sangat produtif menulis di blog dan di note facebooknya. Terimaksih teman superiorku, teman sejawatku, Faris Azhar.
Kami mulai kenal saat memasuki kelas 10 di sebuah sekolah madrasah aliyah negri. Awal perkenalan kami dimulai saat saya membacaka sebuah pisi tentang uang di depan kelas. Dan dihari itu juga lah kami mulai berkenalan. Kami satu kelas tepatnya.
Kami mulai akrab dan sering mengorbol. Puncaknya saat guru Biologi kami cuti untuk melahirkan dan diganti oleh guru lain, saat itulah kami suka membicarakan tentang masa depan dan mimpi-mimpi kami. Candida albinacos adalah hal pertama yang kami bicarakan karena penjelasa sang guru pengganti yang menarik minat kami untuk mempelajari biologi.
“jika membaca itu semudah mendengar, maka menulis itu akan semudah berbicara”
Kami mulai bercelonteh tentang mimpi-mimpi indah kehidupan kampus, ITS merupakan tempat yang ingin kami capai karena melihat ada kakak tingkat yang berhasil lolos ke ITS melalui jalur beasiswa. Dan teknik biologi adalah pilihan saya. Saat kelas 2 atau kelas tiga adalah saat betapa saya merasa bodoh, karena tidak ada itu yang namanya candida albinacos dalam dunia Biologi, yang ada adalah candida albicans.
Dan sayapun sadar bahwa belum ada atau tidak ada itu prodi teknik biologi di ITS Surabaya. Yah entahlah, teman saya si superior hanya mengiyakan dan memanasi mimpi-mimpi saya. Sampai ahirnya di penghunjung tahun kelas 3 saat pemilihan perguruan tinggi dan PMDK berlangsung saya sadar betapa memang teman saya itu superior. Dia diterima di ITS lewat jalur Beasiswa DEPAG sedangkan saya tidak lolos.
Sekarang, kami sedang menikmati liburan naik tingkat tiga atau menuju tahun ke-tiga di perguruan tinggi di kota masing-masing. Saya kuliah di Unswagati Cirebon dengan prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan teman saya mengambil prodi teknik sipil ITS Surabaya masih berteman dan bersahabat baik.
"imabangi membaca dengan menulis"
Malam ini dia memberikan pandangaannya tentang menulis melalui pesan singkat. Pernah memang suatu ketika saya memposting, “imabangi membaca dengan menulis” dia menurunkannya menjadi “jika membaca itu semudah mendengar, maka menulis itu akan semudah berbicara”.
Saya merasa sangat kelu seketika membaca pesan singkatnya, karena blog saya terbengkalai bertahun-tahun, sedangkan dia sangat produtif menulis di blog dan di note facebooknya. Terimaksih teman superiorku, teman sejawatku, Faris Azhar.
Membaca Ulang Tulisan

Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir
Sebagai mahasiswa yang malas menulis, membaca ulang karya pribadi merupakan hal yang –harus saya akui- bukan kebiasaan saya. Saya biasa mengumpulkan tugas, laporan dan semacamnya kepada dosen tanpa membaca ulang keseluruhan teks, dan hasilnya, nilai saya biasa-biasa saja. Saya baru menyadari betapa pentingnya membaca keseluruhan karya kita. Membaca disini maksudnya adalah membaca kesulurahn karya, membacanya lagi dan memperbaiki jika ada kesalahan dan membaca sekali lagi untuk memastikan bahwa karya kita ‘utuh’ dan sempurna.
Pantas saja Raditya Dika pernah menulis di twitternya bahwa menulis adalah proses mengedit ulang dan membaca kembali karya kita sebelum mempublikasinanya. Lebih lanjut, saya menemukan banyak manfaat dari membaca ulang karya pribadi sebelum kita mempublikasikannya, diantaranya: saat memebaca ulang kita menemukan beberapa kata yang tidak pantas dimuat atau tidak sesuai ejaan atau sebatas misspell, misal tulisan “dan” menjadi “adan” karena hobi banget memencet huruf a.
Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir. Yang lebih mengerikan adalah sering saya jumpai tulisan saya berirama aneh karena paragraph awal menggunakan bahasa formal dan tiba-tiba menjadi bahasa gaul. Memang benar bahwa menulis itu adalah proses mengedit tulisan itu sendiri. Selamat menulis dan membaca ulang karya anda sebelum mempublikasikannya. Salam.
Langganan:
Komentar (Atom)