The first reason why I am using twitter is I got bored using facebook, but I still need having interaction with virtual life in the internet. So I see twitter kind of option for having connection with other.
Second reason why I am using twitter is so many public figure have twitter, so it must be more easier get update and latest info about them only by clicking "following" bottom on twitter.
And the other reason of using twitter is I want to try new stuff. Cause everybody in world wide talks about twitter, so I think that twitter must have something.
I know, not much friend of mine who using twitter as their way to connect with global world. But then I am thinking: who am I exactly? Yeah. Who am I?
I am a boy who lives in Cirebon, West Java, Indonesia who wants to follow the latest issue in this entirely world. So then I got started following famous account on twitter. It can be artists, news official account, news portal, politicians, and another public figure.
Yeah. I like following them. I like reading their twits on twitter. Then I start understanding about one concept to another, I start to understand why one issue has a relation with another one.
The most experience what just I've gotten is I am blocked by an account that I follow. Well, the reason why I follow him because I like his thought, his work and his writing. But I just don't get the point why he did (blocked me).
Then I recall, yeah. Mostly, I was too enthusiast to read his work, so then I keep RT-ing and Reply-ing his work. But then I recall another thing, well, I have to admit that I am not doing only for him. But mostly all the account that I follow, then I am thinking: "who am I exactly?" Reminding that he has something much more value rather than block me on twitter.
I opened this blocking conversation with one of friend of mine. I open the conversation by giving him my habitual thing while twit-ing and then he concluded that he was so sorry, but he was glad enough knowing what's went on. He said: I am glad instead knowing that an account who has more than 7000 followers blocked you. It explains much thing, or probably you got something.
I was just listening to my friend's comment without any interruption, well dude, do I? Who I am exactly!?
Tampilkan postingan dengan label my thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my thought. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Juli 2012
Minggu, 11 September 2011
Kosong
Malam itu mendekati tengah malam, dan saya belum tidur. Belum mengantuk juga dan bisa jadi disebabkan karena siangnya saya tidur sekitar 2 jam an. Malam itu seperti malam-malam yang lainnya, tiada yang special.
Saya secara tiba-tiba merasa bahwa masa muda saya sangat berwarna coklat alias biasa-biasa saja. Malah dikatakan dibawah biasa. Well, mungkin saya perlu sedikit membeberkan sedikit riwayat hidup saya.
Saya lahir dari keluarga santri, ayah saya menjadi ustad di mushola keluarga kami dan ibu saya seorang petani. Ayah saya meninggal saat saya kelas 5 SD dan setelah lulus SD saya dipesantrenkan di daerah Babakan Ciwaringin Cirebon sampai pertengahan tahun 2009.
Maksud saya memberekan tersebut, saya ingin mengetahui pula siapa saya dan pola hidup yang saya jalani selama. Selama saya di pesantren saya juga mengikuti sekolah MTs dan MA yang keduanya berstatus negri dan sekarang saya kuliah di Unswagati Cirebon mengambil Pend. B. Inggris.
Menghabiskan waktu 6 tahun berteman dengan teman-teman pesantren, membuat saya sedikit bermasalah dalam bergaul saat kuliah, jujur saja, terkadang saya merasa tidak cocok dengan seseorang yang menyebabkan saya merasa tidak perlu berlebihan berteman dengannya. Saya tidak ada fikiran untuk mengubah diri saya agar bisa seperti dia dan bergabung dengan komunitasnya. Tidak, saya merasa saya sudah menjadi saya dan tinggal mencari orang-orang yang cocok, pas dan tepat.
Memang hidup ya banyak yang kita sukai dan menyukai kita, pun banyak yang tidak kita sukai dan tidak menyukai kita. Itu fitrah, namun untuk masalah mengubah diri untuk menjadi orang lain, saya menyatakan belum siap. Perlu ada dorongan yang lebih untuk menjadi orang lain tersebut.
Lebih lanjut saya berfikir bahwa, jumlah manusia itu mendekati angka 7 milyar jadi saya tidak perlu merasa kesepian jika pada suatu masa saya harus benar-benar menjalani hidup sendirian, karena saat mandipun kita menginginkan sendiri, bukan? Ya kecuali mungkin jika anda pengantin baru.
Saya secara tiba-tiba merasa bahwa masa muda saya sangat berwarna coklat alias biasa-biasa saja. Malah dikatakan dibawah biasa. Well, mungkin saya perlu sedikit membeberkan sedikit riwayat hidup saya.
Saya lahir dari keluarga santri, ayah saya menjadi ustad di mushola keluarga kami dan ibu saya seorang petani. Ayah saya meninggal saat saya kelas 5 SD dan setelah lulus SD saya dipesantrenkan di daerah Babakan Ciwaringin Cirebon sampai pertengahan tahun 2009.
Maksud saya memberekan tersebut, saya ingin mengetahui pula siapa saya dan pola hidup yang saya jalani selama. Selama saya di pesantren saya juga mengikuti sekolah MTs dan MA yang keduanya berstatus negri dan sekarang saya kuliah di Unswagati Cirebon mengambil Pend. B. Inggris.
Menghabiskan waktu 6 tahun berteman dengan teman-teman pesantren, membuat saya sedikit bermasalah dalam bergaul saat kuliah, jujur saja, terkadang saya merasa tidak cocok dengan seseorang yang menyebabkan saya merasa tidak perlu berlebihan berteman dengannya. Saya tidak ada fikiran untuk mengubah diri saya agar bisa seperti dia dan bergabung dengan komunitasnya. Tidak, saya merasa saya sudah menjadi saya dan tinggal mencari orang-orang yang cocok, pas dan tepat.
Memang hidup ya banyak yang kita sukai dan menyukai kita, pun banyak yang tidak kita sukai dan tidak menyukai kita. Itu fitrah, namun untuk masalah mengubah diri untuk menjadi orang lain, saya menyatakan belum siap. Perlu ada dorongan yang lebih untuk menjadi orang lain tersebut.
Lebih lanjut saya berfikir bahwa, jumlah manusia itu mendekati angka 7 milyar jadi saya tidak perlu merasa kesepian jika pada suatu masa saya harus benar-benar menjalani hidup sendirian, karena saat mandipun kita menginginkan sendiri, bukan? Ya kecuali mungkin jika anda pengantin baru.
Teman Lama
Suatu siang saya mendapatkan psan singkat dai teman saya yang berisi curhatan bahwa selama setahun dia kuliah di luar kota, dia belum juga mendapatkan teman untuk saling meloyalkan diri dan dia juga memberitahu saya bahwa dia sedang berada di tempat teman lamanya. Dia merasa terlalu saying pada kehidupan lamanya dan merasa terjebak dalam kehidupan lamanya.
Saya sedikit miris dan sedih membacanya. Saya mengetahui sedikit banyak tentang dia dan lantas saya berkaca pada diri sendiri. Oh tidak, saya pun demikian. Yah saya tak jauh berbeda dengan teman saya tersebut, malahan bisa dikatakan saya lebih buruk. Teman saya kuliah di luar kota dan saya tetap bergumul di kota sendiri. Bisa dilihat perbedaan pertama: tempat.
Hal lain: mobilitas, dia sering bercerita tentang betapa dia harus membutuhkan ini-itu, harus ini-itu, harus berbuat ini-itu untuk kegiatan kampusnya. Haha. Saya miris, saya di sini tidak bergabung di orgnisasi manapun. Dan banyak hal lain yang jika dibandingkan hanya akan membuat saya terlihat sangat jauh dibawah teman saya tersebut.
Tidak, saya tidak boleh terpaku untuk memikirkan perbedaan masalah tempat kuliah dan mobiltas kami yang sangat berbeda, namun saya jadi berfikir pula, lantas apa?
Entahlah, saya jadi semakin merasa tidak enak untuk memikirkan hal ini, membuat saya mengingat kata-kata bijak dari suatu program motivasi di televisi swasta nasional, bahwa banyak yang mengharapakan kehidupannya baik disuatu hari, namun tak sadar ia telah menidurkan semangatnya untuk menyegarakan diri membangun kehidupan baik yang dicita-citakannya. Maka segerlah memulai untuk membaikkan kehidupan anda.
Mengingat hal itu saya jadi malu dan saya pun merespon sms teman saya tersebut denagan hal-hal, yang semoga saja, mampu membuatnya bersemangat lagi dan tidak perlu membuat konsep buruk tentang dirinya.
Saya sedikit miris dan sedih membacanya. Saya mengetahui sedikit banyak tentang dia dan lantas saya berkaca pada diri sendiri. Oh tidak, saya pun demikian. Yah saya tak jauh berbeda dengan teman saya tersebut, malahan bisa dikatakan saya lebih buruk. Teman saya kuliah di luar kota dan saya tetap bergumul di kota sendiri. Bisa dilihat perbedaan pertama: tempat.
Hal lain: mobilitas, dia sering bercerita tentang betapa dia harus membutuhkan ini-itu, harus ini-itu, harus berbuat ini-itu untuk kegiatan kampusnya. Haha. Saya miris, saya di sini tidak bergabung di orgnisasi manapun. Dan banyak hal lain yang jika dibandingkan hanya akan membuat saya terlihat sangat jauh dibawah teman saya tersebut.
Tidak, saya tidak boleh terpaku untuk memikirkan perbedaan masalah tempat kuliah dan mobiltas kami yang sangat berbeda, namun saya jadi berfikir pula, lantas apa?
Entahlah, saya jadi semakin merasa tidak enak untuk memikirkan hal ini, membuat saya mengingat kata-kata bijak dari suatu program motivasi di televisi swasta nasional, bahwa banyak yang mengharapakan kehidupannya baik disuatu hari, namun tak sadar ia telah menidurkan semangatnya untuk menyegarakan diri membangun kehidupan baik yang dicita-citakannya. Maka segerlah memulai untuk membaikkan kehidupan anda.
Mengingat hal itu saya jadi malu dan saya pun merespon sms teman saya tersebut denagan hal-hal, yang semoga saja, mampu membuatnya bersemangat lagi dan tidak perlu membuat konsep buruk tentang dirinya.
Kamis, 18 Agustus 2011
Merantau ke Negara Maju
Secara tiba tiba, saya kefikiran untuk menjadi TKI. Entah kenapa saya punya kefikiran macam itu, mungkin karena pengaruh liburan selama naik tingkat 3 yang benar-benar tidak ada hal yang harus dilakukan.
Negara pilihan saya Amerika, alesannya simple saja, yaitu karena ingin merasakan keribedan hidup di negri pembuat film-film kesukaan saya tersebut, hohoohohoo. Saya ingin kesana.
Beranjak dari keinginan saya tersebut, saya mulai mengingat nama-nama orang orang di kampung saya yang pernah merantau ke negri orang ataupun masih dalam rantauan, baik itu Malaysia, Singapura, Abu Dhabi, Korea, Oman, Arab Saudi, Hongkong, dll. Saya takjub dengan mereka yang mempunya tekad sekeren itu. Demi mencari kehidupan sampai rela keluar negri.
Makanya, saya yang kuliah-pun harus bisa seperti mereka, keluar negri.
Sebenarnya tulisan ini lebih kepada pertanyaan apakah di negara maju juga mereka suka menyewa orangg untuk mengurus rumah, kebun atau sekedar menjadi juru antar (driver), dalam hal ini, ‘mereka’ yang saya maksudkan adalah negara-negara di Eropa dan USA. Sebab kalau melihat tayangan di televisi, sejauh ini sangat jarang saya temui pembantu di rumah-rumah orang Eropa atau USA sana.
Dan malahan, kalau liat dari orang-orang dari kampung saya yang menjadi TKI, mayoritas tujuan mereka adalah menjadi PRT, tukang kebun, buruh, dan supir di negara negara yang sedang berkembang pesat seperti negara-negara yang saya sebutkan sebelumnya sebagai negara tujuan mereka.
Lantas saya berfikir, WAW, keren sekali yah orang-orang di negara negara Eropa dan USA, mereka sangat mandiri, semoga suatu hari nanti saya bisa menetap di negara berpenduduk sangat mandiri tersebut. Amin
Doakan saya yah, kawan…
Negara pilihan saya Amerika, alesannya simple saja, yaitu karena ingin merasakan keribedan hidup di negri pembuat film-film kesukaan saya tersebut, hohoohohoo. Saya ingin kesana.
Beranjak dari keinginan saya tersebut, saya mulai mengingat nama-nama orang orang di kampung saya yang pernah merantau ke negri orang ataupun masih dalam rantauan, baik itu Malaysia, Singapura, Abu Dhabi, Korea, Oman, Arab Saudi, Hongkong, dll. Saya takjub dengan mereka yang mempunya tekad sekeren itu. Demi mencari kehidupan sampai rela keluar negri.
Makanya, saya yang kuliah-pun harus bisa seperti mereka, keluar negri.
Sebenarnya tulisan ini lebih kepada pertanyaan apakah di negara maju juga mereka suka menyewa orangg untuk mengurus rumah, kebun atau sekedar menjadi juru antar (driver), dalam hal ini, ‘mereka’ yang saya maksudkan adalah negara-negara di Eropa dan USA. Sebab kalau melihat tayangan di televisi, sejauh ini sangat jarang saya temui pembantu di rumah-rumah orang Eropa atau USA sana.
Dan malahan, kalau liat dari orang-orang dari kampung saya yang menjadi TKI, mayoritas tujuan mereka adalah menjadi PRT, tukang kebun, buruh, dan supir di negara negara yang sedang berkembang pesat seperti negara-negara yang saya sebutkan sebelumnya sebagai negara tujuan mereka.
Lantas saya berfikir, WAW, keren sekali yah orang-orang di negara negara Eropa dan USA, mereka sangat mandiri, semoga suatu hari nanti saya bisa menetap di negara berpenduduk sangat mandiri tersebut. Amin
Doakan saya yah, kawan…
Senin, 08 Agustus 2011
Bermain Dengan Persepsi II
Lebih lanjut, permainan persepsi mengantarkan saya ke lebih banyak pandangan hidup, pola pikir serta tujuan dari suatu kegiatan tertentu.
Misal, ada dua orang yang sama-sama gemar beribadah, namun setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata kedua goal orang tersebut sangatlah berbeda, yang pertama tergila-gila dengan namanya pahala yang lainnya hanya mementingkan apakah perbuatannya itu mendapat ridho dari sang Maha Pencipta.
Di kampus, saya menemukan kasus serupa namun tak sama, satu golongan benar-benar rajin dan sangat sensitif dengan nilai IP mereka, sedangkan yang lainnya sangat santai menaggapi IP mereka. Namun usaha belajar mereka sama besarnya dan sama ngototnya untuk bisa. Saya lebih senang menyebutnya geng score-oriented dan geng pure knowledge-oriented.
Memang semua presepsi itu bermuara kepada cara kita memilih kata-kata dalam mengobrol juga, semisal saat kita benar-benar ingin membantu namun tidak tahu apakah kita bisa benar-benar membantu atau tidak, mungkin sebagian dari kita biasa mengatakan, “ okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” ada juga yang lebih suka mengatakan, “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” keduanya memang bertujuan sama ingin membantu, namun pertanyaan pertama menybabkan lawan bicara kita sedikit merasa ada awan gelap di masa depannya, dan pertanyaan kedua mampu membangkitkan semangat keduanya, ya memang kedua-duanya tidak pasti kedepannya, apakah memenemukan solusi baik atau tidak, setidaknya memang sedikit terbukti, cara berfikir kita menyebabkan cara kita memilih kata-kata juga saat mengobrol.
Lebih lanjut tentang pernyataan “okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” dan “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” memang bermata dua macam pisau, disisi lain pernyataan pertama memang ada semacam perasaan sedikit enggan untuk membantu dan merasa bahwa orang yang meminta bantuan tidak begitu dianggap penting dalam kehidupannya. Sedangkan pernyataan kedua mungkin bertujuan lebih dari pada sekedar membantu, namun juga menawarkan perasaan nyaman dan berkawan.
Yah, itulah presepsi, dan nampaknya presepsi orang tidak mungkin kita paksa agar mendekati sama seperti kita, namun kita bisa mengusahakannya dengn saling silang perdapat agar bisa saling memahami dan menghargai.
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, bahwa disebutkan, “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Misal, ada dua orang yang sama-sama gemar beribadah, namun setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata kedua goal orang tersebut sangatlah berbeda, yang pertama tergila-gila dengan namanya pahala yang lainnya hanya mementingkan apakah perbuatannya itu mendapat ridho dari sang Maha Pencipta.
Di kampus, saya menemukan kasus serupa namun tak sama, satu golongan benar-benar rajin dan sangat sensitif dengan nilai IP mereka, sedangkan yang lainnya sangat santai menaggapi IP mereka. Namun usaha belajar mereka sama besarnya dan sama ngototnya untuk bisa. Saya lebih senang menyebutnya geng score-oriented dan geng pure knowledge-oriented.
Memang semua presepsi itu bermuara kepada cara kita memilih kata-kata dalam mengobrol juga, semisal saat kita benar-benar ingin membantu namun tidak tahu apakah kita bisa benar-benar membantu atau tidak, mungkin sebagian dari kita biasa mengatakan, “ okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” ada juga yang lebih suka mengatakan, “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” keduanya memang bertujuan sama ingin membantu, namun pertanyaan pertama menybabkan lawan bicara kita sedikit merasa ada awan gelap di masa depannya, dan pertanyaan kedua mampu membangkitkan semangat keduanya, ya memang kedua-duanya tidak pasti kedepannya, apakah memenemukan solusi baik atau tidak, setidaknya memang sedikit terbukti, cara berfikir kita menyebabkan cara kita memilih kata-kata juga saat mengobrol.
Lebih lanjut tentang pernyataan “okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” dan “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” memang bermata dua macam pisau, disisi lain pernyataan pertama memang ada semacam perasaan sedikit enggan untuk membantu dan merasa bahwa orang yang meminta bantuan tidak begitu dianggap penting dalam kehidupannya. Sedangkan pernyataan kedua mungkin bertujuan lebih dari pada sekedar membantu, namun juga menawarkan perasaan nyaman dan berkawan.
Yah, itulah presepsi, dan nampaknya presepsi orang tidak mungkin kita paksa agar mendekati sama seperti kita, namun kita bisa mengusahakannya dengn saling silang perdapat agar bisa saling memahami dan menghargai.
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, bahwa disebutkan, “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Bermain Dengan Persepsi I
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, disebutkan bahwa “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali diasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.”
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Rabu, 03 Agustus 2011
Membaca Ulang Tulisan

Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir
Sebagai mahasiswa yang malas menulis, membaca ulang karya pribadi merupakan hal yang –harus saya akui- bukan kebiasaan saya. Saya biasa mengumpulkan tugas, laporan dan semacamnya kepada dosen tanpa membaca ulang keseluruhan teks, dan hasilnya, nilai saya biasa-biasa saja. Saya baru menyadari betapa pentingnya membaca keseluruhan karya kita. Membaca disini maksudnya adalah membaca kesulurahn karya, membacanya lagi dan memperbaiki jika ada kesalahan dan membaca sekali lagi untuk memastikan bahwa karya kita ‘utuh’ dan sempurna.
Pantas saja Raditya Dika pernah menulis di twitternya bahwa menulis adalah proses mengedit ulang dan membaca kembali karya kita sebelum mempublikasinanya. Lebih lanjut, saya menemukan banyak manfaat dari membaca ulang karya pribadi sebelum kita mempublikasikannya, diantaranya: saat memebaca ulang kita menemukan beberapa kata yang tidak pantas dimuat atau tidak sesuai ejaan atau sebatas misspell, misal tulisan “dan” menjadi “adan” karena hobi banget memencet huruf a.
Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir. Yang lebih mengerikan adalah sering saya jumpai tulisan saya berirama aneh karena paragraph awal menggunakan bahasa formal dan tiba-tiba menjadi bahasa gaul. Memang benar bahwa menulis itu adalah proses mengedit tulisan itu sendiri. Selamat menulis dan membaca ulang karya anda sebelum mempublikasikannya. Salam.
Langganan:
Komentar (Atom)