Awalnya saya lagi ngebet banget pengen punya smart phone, dan ahirnya pun beli juga.
Melihat iklan kepincut juga dengan angka keren 99k fullservice untuk 90hari, namun tiba-tiba saja ada iklan baru, 90hari fullservice dengan harga cantik hanya 45k. Waw. Tanpa fikir panjang saya memboyong satu buah kartu perdana dari konter terdekat untuk menikmati si 49k tersebut. Namun sebelumnya saya pelajari dulu S & K dari produk tersebut.
Didorong dengan rasa terburu-buru dan ingin cepet-cepet memakai full service, ahirnya aktiflah si 49k! Yohoooo, saya mengaktifkannya di lingkungan kampus swasta di daerah kedaung. Dan o-ow, llleeeemmmmmooootttt banget, sejenak saya berfikir.. Kenapa gag biasa ajah!? Pasti gag kaya gini. Dan lagi...
Dan, waw saya kan punya kartu yg mungkin lebih cepet dari si 49k, si merah 99k.
Meratapi kelemotan service provider, jadi ingat saat mengobrol dengan teman hubungan natara harga dan kwalitas.
Selalu pasti ada barang murah dan berkualitas, tapi ya itu, namanya juga murah yaa kualitasnya juga murah.
Hmm
Saya belajar disini, bahwa harga tak pernah berbohong.
Mari bijak berbelanja, jangan kejebak dengan iklan barang yang ngakunya harga murah tapi kwalitas mahal. Karena pasar telah menghitung, jika barangya murah yaaa kualitasnya juga mengikuti...
Karena harga tak pernah berbohong
Tampilkan postingan dengan label pengalaman pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman pribadi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Desember 2011
Kamis, 18 Agustus 2011
Karokean di Warnet
Kejadian ini terjadi di smester 2 perkuliahan saya atau sekitar satu atau dua tahun yang lalu.
Saat itu saya masih ikut belajar di LIA Cirebon, seperti biasa tiap bulan LIA selalu bagi-bagi tabloid gratis C ‘n S Magazine dan salah satu liputan musiknya mengenai album baru dari Daniel Marriweather. Namanya sih tidak begitu saya kenal karena saat itu memang saya tidak begitu mengerti lagu, dan sampai sekarang sih. Gaya laporan dari C’n S itulah yang membuat saya tertarik, Karena disebutkan bahwa meski sedikit easy listening, namun lagi tersebut tidak bakal disukai remaja.
Nah lho? Makanya saya searching dan dapatlah lagu yang berjudul impossible.. ahahaha dan ternyata tabloid itu salah, buktinya saya yang saat itu masih 18 tahun suka kok dengan lagunya.
Saya seketika menyukai lagu Impossible dari Daniel Marriweather, selain karena beat nya saya suka juga lyric nya keren banget, mungkin lebih dikarenakan saat itu saya sedang falling in love dengan temen sekelas meskipun pada ahirnya saya ditolak. AHAHAHAHA.
Karena lagu itu pula saya bisa dekat dengan teman-teman sekelas saya, yaitu Denny Andyatno dan Didi Murdiana Muinn, bahkan kalau tak salah kami pernah karokean dengan lagu tersebut, lucu memang karena kami melakukannya di warnet, tak apalah karena warnet yang kami pakai saat itu sedang sepi pengunjung.
Bukan sampai disitu, yang lebih memalukan adalah saat saya ingin mencari bahan tugas kampus di sebuah warnet depan kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, saat itu saya masih ngekos di daerah tersebut. Jadi begini ceritanya.
Mengerjakan tugas di warnet sendirian pasti membosankan lah, saya melihat ada headset yang cukup keren di samping computer yang saya sewa. Box warnet tempat saya sewa hanya cukup 2 orang namun masa bodo juga lah, saya hanya seorang ini, bete dengan kesendiarian, ahirnya saya masuk ke youtube dan menorehkan kata impossible Daniel marriweather, OH GREAT saya menemukan yang lyric juga..
Ahirnya saya pasang headset di kuping dan mulailah saya video streaming, tidak puas muter sekali saya putar berulang-ulang, tidak puas hanya mendengarkan saya ikut menyanyi, tidak puas dengan gumanan nyayian, saya menyanyi dengan lantang seperti di tempat karoke, saat pengulangan kedua dari reff lagu tersebut secara tiba-tiba saya dapat pesan dari operator melalui client message, “MAS, MAAF NYANYINYA JANGAN KERAS-KERAS”
Wew, saya baru sadar. HAAHAHAHAHAHA, dengan elegan saya lepas headset nya dan …. Entahlah saya lupa setelah itu, yang jelas saat saya keluar dari box warnet semua mata penghuni warnet melihat saya dengan pandangan yang sulit saya pahami.
Minggu, 14 Agustus 2011
Saya dan SP
Nama lengkap saya di KTP Moh. Nazmudin. Sekarang saya baru saja memulai liburan naik tingkat 2 ke tingkat 3. Saya mengambil prodi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Swadaya Gunung Jati atau biasa disebut Unswagati Cirebon.
Hari ini, Ahad tertanggal 14 Agustus 2011, hari ini saya bangun sedikit telat, yaitu sekitar pukul 10.05 WIB. Alas an saya bangun telat simple, tidak ada jadwal kegiatan pagi hari ahad ini.
Oh yah, selama bulan Ramadhan tahun ini saya mengambil SP 2 sks, 2sks di mata kuliah ISBD atau Ilmu Sosial Budaya Dasar dan 2 sks lainnya di mata kuliah Pengelolaan Pendidikan. Saya mengambil kelas SP (Semester Pendek) karena merasa nilai C di dua mata kuliah tersebut harus diubah, meskipun saya tahu itu bukan mata kuliah wajib.
SP tahun sekarang berbeda dari SP tahun sebelumnya (menurut teman yang mengambil SP tahun lalu), lebih dikarenakan kebijakan dari Sekjur baru yang memberikan hukum baru bahwa: 1.) SP tidak memastikan nilai yang mengambil SP berubah. 2.) nilai SP hanya boleh maksimal sampai satu tingkat nilai huruf 3.) dosen tidak diperkenankan member nilai A di SP sekarang.
Mereka yang mengambil SP adalah mereka yang mempunyai nilai C atau lebih rendah di suatu mata kuliah, saya merasa simpati pada teman-teman yang mempunyai nilai D, kalau berdasarkan surat edaran dari pak sekjur sih ya mereka tidak mungkin dapat B, pasti C. kasian yah..
Memang sih kalau dari ditilik dari tujuan SP hanya kepada score-oriented, tidak kah surat edaran dari pak sekjur baru tersebut terkesan kurang percaya pada mahasiswa dan dosennya? Dalam artian, idealnya dalam proses perkuliahan kan yang berkuasa atas nasib seorang mahasiswa adalah hasil belajarnya dan dosen yang berwenang, kan? Lha kok ini pak sekjur baru kok ikut-ikutan?!
Entahlah, ya memang tulisan ini adalah bentuk ketidakpuasan saya pada pak sekjur baru yang memberikan aturan yang memang baik, namun kurang rasional. Inilah kisah saya dan SP :)
Hari ini, Ahad tertanggal 14 Agustus 2011, hari ini saya bangun sedikit telat, yaitu sekitar pukul 10.05 WIB. Alas an saya bangun telat simple, tidak ada jadwal kegiatan pagi hari ahad ini.
Oh yah, selama bulan Ramadhan tahun ini saya mengambil SP 2 sks, 2sks di mata kuliah ISBD atau Ilmu Sosial Budaya Dasar dan 2 sks lainnya di mata kuliah Pengelolaan Pendidikan. Saya mengambil kelas SP (Semester Pendek) karena merasa nilai C di dua mata kuliah tersebut harus diubah, meskipun saya tahu itu bukan mata kuliah wajib.
SP tahun sekarang berbeda dari SP tahun sebelumnya (menurut teman yang mengambil SP tahun lalu), lebih dikarenakan kebijakan dari Sekjur baru yang memberikan hukum baru bahwa: 1.) SP tidak memastikan nilai yang mengambil SP berubah. 2.) nilai SP hanya boleh maksimal sampai satu tingkat nilai huruf 3.) dosen tidak diperkenankan member nilai A di SP sekarang.
Mereka yang mengambil SP adalah mereka yang mempunyai nilai C atau lebih rendah di suatu mata kuliah, saya merasa simpati pada teman-teman yang mempunyai nilai D, kalau berdasarkan surat edaran dari pak sekjur sih ya mereka tidak mungkin dapat B, pasti C. kasian yah..
Memang sih kalau dari ditilik dari tujuan SP hanya kepada score-oriented, tidak kah surat edaran dari pak sekjur baru tersebut terkesan kurang percaya pada mahasiswa dan dosennya? Dalam artian, idealnya dalam proses perkuliahan kan yang berkuasa atas nasib seorang mahasiswa adalah hasil belajarnya dan dosen yang berwenang, kan? Lha kok ini pak sekjur baru kok ikut-ikutan?!
Entahlah, ya memang tulisan ini adalah bentuk ketidakpuasan saya pada pak sekjur baru yang memberikan aturan yang memang baik, namun kurang rasional. Inilah kisah saya dan SP :)
TROPFEST
Suka dengan tropfest
Awalnya merasa jenuh dengan film-film yang ada, ingin sesuatu yang berbeda, dan tiba-tiba saja saya melakukan searching di youtube untuk menemukannya, dan gotcha! I’ve found it! Yah, nama channelnya adalah Tropfest yamg merupakan singkatan Tropical Festival
Berikut saya kopi dari Wikipedia mengenai Tropfest
Sejarah tropfest
Tropfest is the world's largest short film festival and is quickly becoming known as the first ever international film festival.
"Tropfest began in 1993 as a screening for 200 people in a cafe in Sydney but has since become the largest platform for short films in the world. Tropfest Australia takes place in February each year in front of a live audience of approximately 150,000. The main event takes place in Sydney but live satellite events are also staged in Melbourne, Canberra, Brisbane, Adelaide, Hobart, Perth and others. The event is also broadcast on television and webcast live to viewers around Australia and the world.
Increasingly, Tropfest events take place in cities around the world including London, Berlin, Toronto, Bangkok, and New York. The inaugural Tropfest Arabia, encompassing approximately 33 countries throughout the Middle East and North Africa, will take place in Abu Dhabi in November 2011.
Tropfest distinguishes itself from other events by being a 'content generation' platform, rather than merely an exhibition platform. Filmmakers are required to create new works for the festival which must include an item, known as the "Tropfest Signature Item" (TSI) and which changes each year. The films must be less than 7 minutes (including titles and credits) and be world premieres at the Tropfest event.
Tropfest's prize pool is one of the richest in the short film arena, and includes international trips to develop filmmaking careers and 'work experience' with top filmmakers. As a result, Tropfest has become known as the undisputed premiere launch pad for filmmaking careers, although to date this has been most notable in Australia, where many commercial and critical successes are directed by Tropfest alumni." taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Tropfest
Video yang saya favorit-kan dari channel Tropfest adalah video pemenangTropfest 2010 yang berjudul SHOCK, videonya mengandung sejuta makna, perlu 5-10 menit untuk terdiam setelah saya menonton film berdurasi 4 menit 17 detik tersebut.
Sebenarnya , saya pun pernah merasakan apa yang digambarkan oleh film tersebut, lucu memang.
Begini ceritanya:
Hari itu saya pulang kuliah pukul 14.30, hari selasa dan belum pengen lagnsung pulang ke rumah, jadi saya putuskan untuk menungunjungi kontarakan teman saya di daerah STIKOM Cirebon, hari itu kontrakannya cukup ramai, saya kutang tertarik untuk mengobrol dan memutuskan tidur siang.
Sore itu saya terbangun pukul 17.20 dan saya belum solat ashar, saya memutuskan untuk bergegas mandi, namun tiba-tiba saja saat saya sudah hampir selesai mandi ada pertanyaan pendek yang terlintas dibenak, “Apa yang kau cari selama ini, Najmudin?” dan secara misterius saya merasa sangat down dan menangis sejadi-jadinya, mirip video tersebut. SHOCK.
Tangis saya pecah dan baru reda setelah sekitar 20 menit, dalam tangis saya saya menjerit, betapa selama ini saya bingung, bingung mengejar sesuatu yanhg selama ini saya sendiri tak tahu apa, saya merasa meaningless dengan rutinitas berangkat ke kampus pukul 05.50am untuk mengejar kopayu dan pukul 5.55am sampai rumah.
Saya baru menyadari betapa saya kurang memberikan waktu untuk diri sendiri mengenai apa yang benar-benar saya inginkan di dunia ini. Namun saya sangat berterimaksih kepada para tim sukses pembuat video SHOCK tersebut, dan kalian memang PANTAS dan BERHAK untuk menang, SELAMAT YAA!!
Awalnya merasa jenuh dengan film-film yang ada, ingin sesuatu yang berbeda, dan tiba-tiba saja saya melakukan searching di youtube untuk menemukannya, dan gotcha! I’ve found it! Yah, nama channelnya adalah Tropfest yamg merupakan singkatan Tropical Festival
Berikut saya kopi dari Wikipedia mengenai Tropfest
Sejarah tropfest
Tropfest is the world's largest short film festival and is quickly becoming known as the first ever international film festival.
"Tropfest began in 1993 as a screening for 200 people in a cafe in Sydney but has since become the largest platform for short films in the world. Tropfest Australia takes place in February each year in front of a live audience of approximately 150,000. The main event takes place in Sydney but live satellite events are also staged in Melbourne, Canberra, Brisbane, Adelaide, Hobart, Perth and others. The event is also broadcast on television and webcast live to viewers around Australia and the world.
Increasingly, Tropfest events take place in cities around the world including London, Berlin, Toronto, Bangkok, and New York. The inaugural Tropfest Arabia, encompassing approximately 33 countries throughout the Middle East and North Africa, will take place in Abu Dhabi in November 2011.
Tropfest distinguishes itself from other events by being a 'content generation' platform, rather than merely an exhibition platform. Filmmakers are required to create new works for the festival which must include an item, known as the "Tropfest Signature Item" (TSI) and which changes each year. The films must be less than 7 minutes (including titles and credits) and be world premieres at the Tropfest event.
Tropfest's prize pool is one of the richest in the short film arena, and includes international trips to develop filmmaking careers and 'work experience' with top filmmakers. As a result, Tropfest has become known as the undisputed premiere launch pad for filmmaking careers, although to date this has been most notable in Australia, where many commercial and critical successes are directed by Tropfest alumni." taken from http://en.wikipedia.org/wiki/Tropfest
Video yang saya favorit-kan dari channel Tropfest adalah video pemenangTropfest 2010 yang berjudul SHOCK, videonya mengandung sejuta makna, perlu 5-10 menit untuk terdiam setelah saya menonton film berdurasi 4 menit 17 detik tersebut.
Sebenarnya , saya pun pernah merasakan apa yang digambarkan oleh film tersebut, lucu memang.
Begini ceritanya:
Hari itu saya pulang kuliah pukul 14.30, hari selasa dan belum pengen lagnsung pulang ke rumah, jadi saya putuskan untuk menungunjungi kontarakan teman saya di daerah STIKOM Cirebon, hari itu kontrakannya cukup ramai, saya kutang tertarik untuk mengobrol dan memutuskan tidur siang.
Sore itu saya terbangun pukul 17.20 dan saya belum solat ashar, saya memutuskan untuk bergegas mandi, namun tiba-tiba saja saat saya sudah hampir selesai mandi ada pertanyaan pendek yang terlintas dibenak, “Apa yang kau cari selama ini, Najmudin?” dan secara misterius saya merasa sangat down dan menangis sejadi-jadinya, mirip video tersebut. SHOCK.
Tangis saya pecah dan baru reda setelah sekitar 20 menit, dalam tangis saya saya menjerit, betapa selama ini saya bingung, bingung mengejar sesuatu yanhg selama ini saya sendiri tak tahu apa, saya merasa meaningless dengan rutinitas berangkat ke kampus pukul 05.50am untuk mengejar kopayu dan pukul 5.55am sampai rumah.
Saya baru menyadari betapa saya kurang memberikan waktu untuk diri sendiri mengenai apa yang benar-benar saya inginkan di dunia ini. Namun saya sangat berterimaksih kepada para tim sukses pembuat video SHOCK tersebut, dan kalian memang PANTAS dan BERHAK untuk menang, SELAMAT YAA!!
Senin, 08 Agustus 2011
Bermain Dengan Persepsi II
Lebih lanjut, permainan persepsi mengantarkan saya ke lebih banyak pandangan hidup, pola pikir serta tujuan dari suatu kegiatan tertentu.
Misal, ada dua orang yang sama-sama gemar beribadah, namun setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata kedua goal orang tersebut sangatlah berbeda, yang pertama tergila-gila dengan namanya pahala yang lainnya hanya mementingkan apakah perbuatannya itu mendapat ridho dari sang Maha Pencipta.
Di kampus, saya menemukan kasus serupa namun tak sama, satu golongan benar-benar rajin dan sangat sensitif dengan nilai IP mereka, sedangkan yang lainnya sangat santai menaggapi IP mereka. Namun usaha belajar mereka sama besarnya dan sama ngototnya untuk bisa. Saya lebih senang menyebutnya geng score-oriented dan geng pure knowledge-oriented.
Memang semua presepsi itu bermuara kepada cara kita memilih kata-kata dalam mengobrol juga, semisal saat kita benar-benar ingin membantu namun tidak tahu apakah kita bisa benar-benar membantu atau tidak, mungkin sebagian dari kita biasa mengatakan, “ okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” ada juga yang lebih suka mengatakan, “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” keduanya memang bertujuan sama ingin membantu, namun pertanyaan pertama menybabkan lawan bicara kita sedikit merasa ada awan gelap di masa depannya, dan pertanyaan kedua mampu membangkitkan semangat keduanya, ya memang kedua-duanya tidak pasti kedepannya, apakah memenemukan solusi baik atau tidak, setidaknya memang sedikit terbukti, cara berfikir kita menyebabkan cara kita memilih kata-kata juga saat mengobrol.
Lebih lanjut tentang pernyataan “okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” dan “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” memang bermata dua macam pisau, disisi lain pernyataan pertama memang ada semacam perasaan sedikit enggan untuk membantu dan merasa bahwa orang yang meminta bantuan tidak begitu dianggap penting dalam kehidupannya. Sedangkan pernyataan kedua mungkin bertujuan lebih dari pada sekedar membantu, namun juga menawarkan perasaan nyaman dan berkawan.
Yah, itulah presepsi, dan nampaknya presepsi orang tidak mungkin kita paksa agar mendekati sama seperti kita, namun kita bisa mengusahakannya dengn saling silang perdapat agar bisa saling memahami dan menghargai.
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, bahwa disebutkan, “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Misal, ada dua orang yang sama-sama gemar beribadah, namun setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata kedua goal orang tersebut sangatlah berbeda, yang pertama tergila-gila dengan namanya pahala yang lainnya hanya mementingkan apakah perbuatannya itu mendapat ridho dari sang Maha Pencipta.
Di kampus, saya menemukan kasus serupa namun tak sama, satu golongan benar-benar rajin dan sangat sensitif dengan nilai IP mereka, sedangkan yang lainnya sangat santai menaggapi IP mereka. Namun usaha belajar mereka sama besarnya dan sama ngototnya untuk bisa. Saya lebih senang menyebutnya geng score-oriented dan geng pure knowledge-oriented.
Memang semua presepsi itu bermuara kepada cara kita memilih kata-kata dalam mengobrol juga, semisal saat kita benar-benar ingin membantu namun tidak tahu apakah kita bisa benar-benar membantu atau tidak, mungkin sebagian dari kita biasa mengatakan, “ okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” ada juga yang lebih suka mengatakan, “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” keduanya memang bertujuan sama ingin membantu, namun pertanyaan pertama menybabkan lawan bicara kita sedikit merasa ada awan gelap di masa depannya, dan pertanyaan kedua mampu membangkitkan semangat keduanya, ya memang kedua-duanya tidak pasti kedepannya, apakah memenemukan solusi baik atau tidak, setidaknya memang sedikit terbukti, cara berfikir kita menyebabkan cara kita memilih kata-kata juga saat mengobrol.
Lebih lanjut tentang pernyataan “okeh, saya usahakan bantu, namun tidak janji yah” dan “sip, akan saya bantu sekuat tenaga” memang bermata dua macam pisau, disisi lain pernyataan pertama memang ada semacam perasaan sedikit enggan untuk membantu dan merasa bahwa orang yang meminta bantuan tidak begitu dianggap penting dalam kehidupannya. Sedangkan pernyataan kedua mungkin bertujuan lebih dari pada sekedar membantu, namun juga menawarkan perasaan nyaman dan berkawan.
Yah, itulah presepsi, dan nampaknya presepsi orang tidak mungkin kita paksa agar mendekati sama seperti kita, namun kita bisa mengusahakannya dengn saling silang perdapat agar bisa saling memahami dan menghargai.
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, bahwa disebutkan, “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.”
Bermain Dengan Persepsi I
Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, disebutkan bahwa “Presepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali diasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.”
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Beberapa waktu lalu, ada yang iseng menanyakan di facebook saya, “ka, setuju gak bahwa di dunia ini gada orang bodah, yang ada hanya orang malas?”, sejenak saya berfikir. Dan saya jawab, “dunia itu berbagi peran, ibarat zakat ya harus ada muzzakki dan mustahikk zakat, masalah bodoh-malas itu hanya presepsi, tak usah diperanjang”. Yang mengajukan pertanyaan tadi adalah adik kelas 2 tahun lebih muda.
Yah, saya mencoba menjawab seluwes mungkin, sebenarnya pertanyaan itu malah sebuah pernyataan dari seorang guru saat saya kelas XI program IPA, kata lengkapnya seperi ini, “di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada orang malas yang tidak mau menggunakan akalnya, masa kalian mau beda hasil dalam belajar, padahal kalian kan bayarnya sama, idealnya kalian mendapatkan pemahaman yang sama”, itu adalah kata-kata penyemangat dari guru kimia kami. Yang entah kenapa ditanyak oleh adik kelas saya di facebook kemarin.
Pada hari itu, entah kenapa semua status di facebook seolah-olah menunjukan kepada saya bahwa presepsi seseorang terkadang bisa mengancam. Saya ambil contoh, teman saya menulis, “ternyata teman yang selama ini saya kira baik, alim, dan pendiam tidak lebih dari seorang bad boy. Lebih nakal dari yang saya duga.” Padahal, setahu saya, subjek yang dicap oleh teman saya tadi tidaklah seburuk cap “bad boy”-nya. Disinlah permainan presepsi bermula.
Bersambung ke Bermain dengan presepsi II
Rabu, 03 Agustus 2011
Membaca Ulang Tulisan

Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir
Sebagai mahasiswa yang malas menulis, membaca ulang karya pribadi merupakan hal yang –harus saya akui- bukan kebiasaan saya. Saya biasa mengumpulkan tugas, laporan dan semacamnya kepada dosen tanpa membaca ulang keseluruhan teks, dan hasilnya, nilai saya biasa-biasa saja. Saya baru menyadari betapa pentingnya membaca keseluruhan karya kita. Membaca disini maksudnya adalah membaca kesulurahn karya, membacanya lagi dan memperbaiki jika ada kesalahan dan membaca sekali lagi untuk memastikan bahwa karya kita ‘utuh’ dan sempurna.
Pantas saja Raditya Dika pernah menulis di twitternya bahwa menulis adalah proses mengedit ulang dan membaca kembali karya kita sebelum mempublikasinanya. Lebih lanjut, saya menemukan banyak manfaat dari membaca ulang karya pribadi sebelum kita mempublikasikannya, diantaranya: saat memebaca ulang kita menemukan beberapa kata yang tidak pantas dimuat atau tidak sesuai ejaan atau sebatas misspell, misal tulisan “dan” menjadi “adan” karena hobi banget memencet huruf a.
Lebuh lanjut, saya sering sekali menemukan tulisan saya tidak sinkron antara paragraph pertama dan terahir. Yang lebih mengerikan adalah sering saya jumpai tulisan saya berirama aneh karena paragraph awal menggunakan bahasa formal dan tiba-tiba menjadi bahasa gaul. Memang benar bahwa menulis itu adalah proses mengedit tulisan itu sendiri. Selamat menulis dan membaca ulang karya anda sebelum mempublikasikannya. Salam.
Langganan:
Komentar (Atom)