Tampilkan postingan dengan label bareng teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bareng teman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Menulis Semudah Berbicara

Namu Says:
Teman saya, Faris Azhar, pernah menulis dalam blognya: " jika membaca ibarat mendengar, maka menulis semudah kita berbicara"

Saya beberapa waktu terdiam membaca kata kata tadi, sangat rasional memang
Maka, mari menulis
Karena menulis itu semudah berbicara



Di lain hari,
Saya dan salah satu teman saya, Bani Ramdlan mengobrol dan tak sengaja menguti kalimat Faris Azhar tersebut. Namun reaksinya tidak begitu setuju
" Benar adanya kalimatmu tadi, walau kita punya dua telinga, kita lebih suka berkicau dalaripada peduli dengan mendengarkan" jelasnya.

Deg!
Nah lho? Benarkah menulis perlu perasan, macam rasa peduli ?

Entahlah, namun yang ingin saya lakukan adalah latian berbicara macam anak 12 bulan yang bosan harus terus mendengar selama lebih dari 320 hari.

Namun, boleh juga sih, mari kita buktikan bahwa menulis itu semudah kita memprosuksi kata melalui lisan.

Selasa, 20 Desember 2011

Hal Kecil yang Besar

Berkenalan Dengan Mahasiswa Jepang

Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan mahasiswa Jepang yang asli WNI. Dia sudah lama tinggal di Jepang untuk study Busenis' Plan di Jepang. Kami berkenalan di dunia maya dan membahas beberapa hal yang menarik saat itu.

Beda Indonesia dan Jepang
Teman lulusan perguruan tinggi di Jepang tersebut berbagi pengalaman culture shocked yang dialaminya saat hari-hari pertana dia kuliah di negeri sakura tersebut. Dimulai dari gara-gara bel dia diusir dari kelas, sering dikembalikan tugas dari sang dosen, aneh melihat nenek-nenek yang mengelap piring kotor sebelum dicuci, dan heran juga karena kangen dengan nyamuk yang biasa mengganggunya seblum tidur.

Bel Penentuan
Awal ke kampus teman saya tersebut dengan santainya berangkat ke kampus on time, dan baru membuka pintu kelas belpun nyaring berbunyi. Yang bikin dia heran, dosen sudah ada di dalam dan secara otomatis dia diusir dari kelas tersebut.
Hmm, saya sih saja, biasanya kalau ke kampus kaya gitu ya paling, senyum dan sapa, " pagim buuuu", hohoho


I know that you are from Indonesia
Teman saya pernah beberapa kali tugas kuliahnya dikembalikan dengan alas an dosen tidak begitu puas dengan tugas yang telah dikerjakannya. Diawal perkuliahan, tugas dia dikembalikan dan ditanya, “kamu mengerjakannya kapan?” dengan spontan teman saya menjawab, “semalam, pak”. Dosen tersebut dengan ramah tersenyum, dan bilang, “ I know that you are from Indonesia, but here is Japan and not Indonesia, perbaiki lagi yah dan buang sistem SKS (sistem kebut semalam) yang ada di minsetmu”.

Kasian dengan bumi
Teman saya pernah terheran-heran karena melihat seorang nenek-nenek yang bersusah payah mengelap piring bekas makan yang penuh dengan minyak menggunakan kertas, dia Tanya, “nek, kok piring kotor mau dicuci repot-repot dilap dengan kertas segala?”. Nenek tersebut hanya tersenyum dan berkata dengan sabar, “Kasin dengan bumi kita, kalau tercampu dengan minyak, pasti air yang saya gunakan jadi lebih lama diproses menjadi bersih kembali”. Mendengar penjelasan singkat si nenek, teman saya hanya diam.

Homesick
Malam pertama di apartemen, dia kangen mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk di kamar rumahnya. Tiba-tiba saja perasaan kangen rumah dan bayangan orang2 tercinta memenuhi kepalanya.
Ia telah jauh, sangat jauh untuk menimba ilmu tentang bisnis. Di Negara bunga sakura tersebut, secara dia merasa sangat sendirian. Keanehan yang dialaminya seharian membuatnya berfikir dan sadar bahwa hal kecil itulah yang membuat Negara kecil macam jepang jadi besar.
Peduli lingkungan, pendidikan dan sangat ketat dalam membagi waktu.

Terimakasih teman untuk cerita-cerita unikmu saat menimba ilmu di negeri Doraemon sana.

Minggu, 11 September 2011

Kosong

Malam itu mendekati tengah malam, dan saya belum tidur. Belum mengantuk juga dan bisa jadi disebabkan karena siangnya saya tidur sekitar 2 jam an. Malam itu seperti malam-malam yang lainnya, tiada yang special.

Saya secara tiba-tiba merasa bahwa masa muda saya sangat berwarna coklat alias biasa-biasa saja. Malah dikatakan dibawah biasa. Well, mungkin saya perlu sedikit membeberkan sedikit riwayat hidup saya.

Saya lahir dari keluarga santri, ayah saya menjadi ustad di mushola keluarga kami dan ibu saya seorang petani. Ayah saya meninggal saat saya kelas 5 SD dan setelah lulus SD saya dipesantrenkan di daerah Babakan Ciwaringin Cirebon sampai pertengahan tahun 2009.

Maksud saya memberekan tersebut, saya ingin mengetahui pula siapa saya dan pola hidup yang saya jalani selama. Selama saya di pesantren saya juga mengikuti sekolah MTs dan MA yang keduanya berstatus negri dan sekarang saya kuliah di Unswagati Cirebon mengambil Pend. B. Inggris.

Menghabiskan waktu 6 tahun berteman dengan teman-teman pesantren, membuat saya sedikit bermasalah dalam bergaul saat kuliah, jujur saja, terkadang saya merasa tidak cocok dengan seseorang yang menyebabkan saya merasa tidak perlu berlebihan berteman dengannya. Saya tidak ada fikiran untuk mengubah diri saya agar bisa seperti dia dan bergabung dengan komunitasnya. Tidak, saya merasa saya sudah menjadi saya dan tinggal mencari orang-orang yang cocok, pas dan tepat.

Memang hidup ya banyak yang kita sukai dan menyukai kita, pun banyak yang tidak kita sukai dan tidak menyukai kita. Itu fitrah, namun untuk masalah mengubah diri untuk menjadi orang lain, saya menyatakan belum siap. Perlu ada dorongan yang lebih untuk menjadi orang lain tersebut.

Lebih lanjut saya berfikir bahwa, jumlah manusia itu mendekati angka 7 milyar jadi saya tidak perlu merasa kesepian jika pada suatu masa saya harus benar-benar menjalani hidup sendirian, karena saat mandipun kita menginginkan sendiri, bukan? Ya kecuali mungkin jika anda pengantin baru.

Teman Lama

Suatu siang saya mendapatkan psan singkat dai teman saya yang berisi curhatan bahwa selama setahun dia kuliah di luar kota, dia belum juga mendapatkan teman untuk saling meloyalkan diri dan dia juga memberitahu saya bahwa dia sedang berada di tempat teman lamanya. Dia merasa terlalu saying pada kehidupan lamanya dan merasa terjebak dalam kehidupan lamanya.

Saya sedikit miris dan sedih membacanya. Saya mengetahui sedikit banyak tentang dia dan lantas saya berkaca pada diri sendiri. Oh tidak, saya pun demikian. Yah saya tak jauh berbeda dengan teman saya tersebut, malahan bisa dikatakan saya lebih buruk. Teman saya kuliah di luar kota dan saya tetap bergumul di kota sendiri. Bisa dilihat perbedaan pertama: tempat.

Hal lain: mobilitas, dia sering bercerita tentang betapa dia harus membutuhkan ini-itu, harus ini-itu, harus berbuat ini-itu untuk kegiatan kampusnya. Haha. Saya miris, saya di sini tidak bergabung di orgnisasi manapun. Dan banyak hal lain yang jika dibandingkan hanya akan membuat saya terlihat sangat jauh dibawah teman saya tersebut.

Tidak, saya tidak boleh terpaku untuk memikirkan perbedaan masalah tempat kuliah dan mobiltas kami yang sangat berbeda, namun saya jadi berfikir pula, lantas apa?
Entahlah, saya jadi semakin merasa tidak enak untuk memikirkan hal ini, membuat saya mengingat kata-kata bijak dari suatu program motivasi di televisi swasta nasional, bahwa banyak yang mengharapakan kehidupannya baik disuatu hari, namun tak sadar ia telah menidurkan semangatnya untuk menyegarakan diri membangun kehidupan baik yang dicita-citakannya. Maka segerlah memulai untuk membaikkan kehidupan anda.

Mengingat hal itu saya jadi malu dan saya pun merespon sms teman saya tersebut denagan hal-hal, yang semoga saja, mampu membuatnya bersemangat lagi dan tidak perlu membuat konsep buruk tentang dirinya.

Kamis, 18 Agustus 2011

Saya, 5000, dan Kepuasan


Resmi tertanggal 17 Agustus 2011 harga tiket masuk untuk nonton di 21 Grage Mall Cirebon naik menjadi 20rb untuk hari biasa dan 25rb untuk weekend dan hari libur.

Hari itu pula, 17 Agustus 2011 saya bareng teman saya, Samsul Ari, pergi ke GM (sebutan akrab untuk Grage Mall Cirebon) untuk hunting jam tangan dan menonton
Transformer. Alangkah kecewa dan sedikit kaget melihat pengumuman bahwa harga tiket telah naik. Samsul beragumen panjang lebar bahwa menonton di 21 Hero Cirebon Mall lebih baik, maka saya pun terhasut oleh bujuk rayunya.

Samsul Ari berpendapat bahwa selain parkir di Hero Cirebon Mall tidak dihitung per jam, juga harga HTM 21lebih murah 5000 rupiah sehingga sayapun mengiyakan ajakan ekonomisnya. Merasa menonton kurang rame, sayapun mengajak teman-teman yang mungkin diajak dan hanya Muhammad Zakiyudin Ikhtar yang menyanggupi ajakan menonton, maka jadilah kami menonton Transformer bertiga.



Pertunjukan pun dimulai, saat itu kami mengambil jam tayang pukul 19.30 di baris C nomer 9 s.d 11 studio 4. Pertunjukan-pun berlangsung, setelah dirasa-rasa kok ni ruangan sedikit aneh, yah? Entah perasaan saya saja atau memang benar, kok ‘disini’ lebih sempit, kursinya lebih kecil dan udaranya kurang segar. Bagi yang menderita klastropobia mungkin ini menjadi sedikit masalah. Dan kami pun banyak kecewa karena banyak adegan dari film tersebut yang dipotong.

Selama pertunjukan kami tak jarang membincangkan adegan-adegan yang dipotong, dan tak jarang pula saya banding-bandingkan perbedaan antara menonton di 21 GM dan Hero, kesimpulannya sederhana, 5000 bukan angka yang besar memang jika yang kita cari adalah kenyamanan dan kepuasan.

Selamat menonton, kawan..

Bukan Untuk Orang Islam Laa

Bukan Untuk Orang Islam Laa

Jadi di pagi itu saya iseng menulis di wall facebook saya: “Apa jadinya jika hal-hal yang membatalkan wudhu juga membatalkan puasa? Bisa dibayangkan saat semua orang menahan kentut.. hahahaha”

Yah, pagi itu entah darimana saya menulis demikian, hahaha, sebenarnya saat itu saya sedang menunggu adzan subuh dan sangat disayangkan saya kentut juga, padahal saya bela-belain untuk menyimpan wudhu saya sampai solat subuh tiba.

Mengingat kata puasa, jadi ingat pemandangan lucu di sekitar Hero, Cirebon Mall. Saat itu, saya, Muhammad Zakiyudin Ikhtar dan Samsul Ari sedang wara-wiri menunggu menuju 21 Hero, Cirebon Mall untuk membeli tiket pertunjukan film Transformer dan tak sengaja kami jumpai pasangan remaja yang sedang asyik makan mie ayam.

Sekilas biasa saja, namun…. Nah lho? Ini kan masih pukul 16.57 dan, hei ini bulan puasa, kan? Terus yang kami herankan, perempuannya mengenakan kerudung yang sedikit berwarna cerah. Sebenarnya biasa saja sih, karena sebelumnya, sekitar pukul 14.30an saya dan Samsul ke pasar KAnoman dan melihat sekeluarga kecil klan china sedang menikmati es serut.

Namun, tetep saja bagi saya yang katro dan terlalu sering menghabiskan waktu di rumah, melihat lelaki 20an tahun bersama pasangannya yang tak jauh beda secara usia dan berkerudung sedikit cerah sebelum pukul 17:00 WIB di bulan puasa makan mie di tempat yang tidak tertutup menurut saya sedikit aneh, ini kan Cirebon, yang katanya kota wali?

Sekiat 10 menit kami mengobrol tentang hal itu, dan pada ahirnya ya memang puasa kan diperintahkan bukan kepada orang islam, namun kepada orang yang beriman. Hehehe..

Arti 21

Arti 21


Rabu 18:13, tertanggal 18 Agustus 2011, saya bersama Samsul Ari dan Muhamad Zakiyudin Ikhtar baru saja menyelesaikan solat maghrib di masjid depan dekat Hero Cirebon Mall, malam itu kami telah mengantongi tiket Transformer yang akan tampil pukul 19:30 di studion 4 21 Hero Cirebon Mall.

Iseng-iseng si Zaki ( panggilan untuk Muhammad Zakiyudin Ikhtar ) Tanya kepada kami, “kenapa sih kok namanya 21? Gak 22, 23 atu angka lainnya?”

Saya jawab dengan tidak begitu semangat, “entahlah, zak, mungkin pendirinya atau apanya yang menunjukan 21”

“ Aha! Saya tahu jawabannya, ahaha, itukan karena jumlah bintang dalam angka 21 berjumlah 21, hitung deh” pekik Zaki, dan …”Lho, iyah, sih, Zak?” sayapun mengiyakan setelah menghitung jumlah bintang yang ada dalam angka 21.

Hmm, emang iya yah 21 itu dinamakan 21 karena ada 21 bintang dalam angka 21 tersebut? Entahlah..