Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Boardcast Blacberry

Sore itu, saat sedang asyik berselonjoran di depan tv
Tiba tiba saja kedip biru dan merah menyala dari celah kecil smartphone saya.

Sedikit enggan ku buka, oh ada BM rupanya
Sering mendapat pesan ini tapi jarang saya baca sampai full
Merasa punya waktu senggang, ahirnya saya baca samapi ahir

Dan
Paragraf ahir benar benar memikat saya

Berikut BM secara lengkapnya:


Dalai Lama diwawancara,  Leonardo Boff, tokoh Teologi Pembebasan Amerika Latin.
Pertanyaannya :
agama apa yg terbaik ? Dalai Lama menjawab sambil tersenyum, menatapku secara langsung, yang mengejutkanku, krn menyadari maksud jahat di balik pertanyaanku.
 
Beliau jawab :
”Agama yang paling baik adalah agama yang membawamu terdekat dengan Tuhan. Agama yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik”

Untuk menutupi perasaan malu, karena jawaban yang sangat bijaksana, saya bertanya: “Apa yang membuat saya menjadi lebih baik?”
 
Beliau jawab:
“Apapun yang membuatmu lebih berwelas asih, lebih masuk akal, lebih terlepas, lebih mencintai, lebih memiliki rasa kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, lebih etis. Agama yang melakukan semua itu terhadap mu adalah agama terbaik”.

Saya terdiam sejenak, mengagumi dan bahkan sekarang memikirkan jawabannya yang bijaksana dan tak terbantahkan:
 
”Saya tidak tertarik temanku, tentang agama mu atau apakah kamu beragama
ataupun tidak.
Apa yang penting untukku adalah tingkah lakumu di hadapan rekan, keluarga, pekerjaan, komunitas anda dan di hadapan dunia. Ingatlah, bahwa semesta adalah gema dari tindakan dan pikiran kita."
"Hukum aksi & reaksi tidak lah semata mata untuk ilmu alam. Akan tetapi juga hubungan antar manusia.
Jika saya bertindak dengan kebaikan, saya akan menerima kebaikan. Jika saya bertindak dgn kejahatan maka saya akan mendapatkan kejahatan."

"Apa yang kakek nenek ajarkan pada kita adalah murni kebenaran. Kamu akan selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan untuk orang lain.
Menjadi bahagia bukanlah takdir. Akan tetapi adalah masalah pilihan.”

Akhirnya dia berkata :
"Berhati hatilah akan pikiranmu krn mereka akan menjadi perkataan.
Berhati hatilah pada kata katamu krn mereka akan menjadi tindakan.
Berhati hatilah pada tindakan mu krn mereka akan menjadi kebiasaan.
Jagalah Kebiasaan mu krn mereka akan membentuk karakter mu.
Jaga Karakter mu, krn akan membentuk nasib mu, & nasibmu adalah hidup mu.."

Kamis, 15 Desember 2011

Bismilah..
Lama saya tak berkunjung ke jurnal tua ini. Hoho

Dua tahun menjalani kuliah tanpa berkecimpung secara langsung di dalam dunia organisasi ahirnya membuat gerah otak juga.

Awal pekan lalu, sekitar pekan ke dua di bulan Desember, saya menemukan flamplet open recruitmen sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa, "saya harus bangun", guman saya.
Saya yang selama ini berasumsi bahwa saya belum menemukan gua plato saya, ternyata keliru besar. Yang ada adalah, saya selama ini menempati gua plato saya yang nyaman dalam ketidak pedulian.

Yah, harus saya akui, bahwa selama ini saya terlalu nyaman untuk iri dengan kehidupan orang lain dan lupa untuk menginjakkan kaki di kehidupan sendiri.

Sekarang, saya sadar, bahwa kemajuan diri ya mutlak merupakan kewajiban diri. Saya bangun, bangun tidur dari gua plato-ku yang nyaman.

Wahai hidup
Wahai kehidupan
Sambutlah saya
Saya siap hidup


hoho.. Secara bukan saya banget ni yang ngepost. Hahahaha

Minggu, 11 September 2011

Kosong

Malam itu mendekati tengah malam, dan saya belum tidur. Belum mengantuk juga dan bisa jadi disebabkan karena siangnya saya tidur sekitar 2 jam an. Malam itu seperti malam-malam yang lainnya, tiada yang special.

Saya secara tiba-tiba merasa bahwa masa muda saya sangat berwarna coklat alias biasa-biasa saja. Malah dikatakan dibawah biasa. Well, mungkin saya perlu sedikit membeberkan sedikit riwayat hidup saya.

Saya lahir dari keluarga santri, ayah saya menjadi ustad di mushola keluarga kami dan ibu saya seorang petani. Ayah saya meninggal saat saya kelas 5 SD dan setelah lulus SD saya dipesantrenkan di daerah Babakan Ciwaringin Cirebon sampai pertengahan tahun 2009.

Maksud saya memberekan tersebut, saya ingin mengetahui pula siapa saya dan pola hidup yang saya jalani selama. Selama saya di pesantren saya juga mengikuti sekolah MTs dan MA yang keduanya berstatus negri dan sekarang saya kuliah di Unswagati Cirebon mengambil Pend. B. Inggris.

Menghabiskan waktu 6 tahun berteman dengan teman-teman pesantren, membuat saya sedikit bermasalah dalam bergaul saat kuliah, jujur saja, terkadang saya merasa tidak cocok dengan seseorang yang menyebabkan saya merasa tidak perlu berlebihan berteman dengannya. Saya tidak ada fikiran untuk mengubah diri saya agar bisa seperti dia dan bergabung dengan komunitasnya. Tidak, saya merasa saya sudah menjadi saya dan tinggal mencari orang-orang yang cocok, pas dan tepat.

Memang hidup ya banyak yang kita sukai dan menyukai kita, pun banyak yang tidak kita sukai dan tidak menyukai kita. Itu fitrah, namun untuk masalah mengubah diri untuk menjadi orang lain, saya menyatakan belum siap. Perlu ada dorongan yang lebih untuk menjadi orang lain tersebut.

Lebih lanjut saya berfikir bahwa, jumlah manusia itu mendekati angka 7 milyar jadi saya tidak perlu merasa kesepian jika pada suatu masa saya harus benar-benar menjalani hidup sendirian, karena saat mandipun kita menginginkan sendiri, bukan? Ya kecuali mungkin jika anda pengantin baru.

Teman Lama

Suatu siang saya mendapatkan psan singkat dai teman saya yang berisi curhatan bahwa selama setahun dia kuliah di luar kota, dia belum juga mendapatkan teman untuk saling meloyalkan diri dan dia juga memberitahu saya bahwa dia sedang berada di tempat teman lamanya. Dia merasa terlalu saying pada kehidupan lamanya dan merasa terjebak dalam kehidupan lamanya.

Saya sedikit miris dan sedih membacanya. Saya mengetahui sedikit banyak tentang dia dan lantas saya berkaca pada diri sendiri. Oh tidak, saya pun demikian. Yah saya tak jauh berbeda dengan teman saya tersebut, malahan bisa dikatakan saya lebih buruk. Teman saya kuliah di luar kota dan saya tetap bergumul di kota sendiri. Bisa dilihat perbedaan pertama: tempat.

Hal lain: mobilitas, dia sering bercerita tentang betapa dia harus membutuhkan ini-itu, harus ini-itu, harus berbuat ini-itu untuk kegiatan kampusnya. Haha. Saya miris, saya di sini tidak bergabung di orgnisasi manapun. Dan banyak hal lain yang jika dibandingkan hanya akan membuat saya terlihat sangat jauh dibawah teman saya tersebut.

Tidak, saya tidak boleh terpaku untuk memikirkan perbedaan masalah tempat kuliah dan mobiltas kami yang sangat berbeda, namun saya jadi berfikir pula, lantas apa?
Entahlah, saya jadi semakin merasa tidak enak untuk memikirkan hal ini, membuat saya mengingat kata-kata bijak dari suatu program motivasi di televisi swasta nasional, bahwa banyak yang mengharapakan kehidupannya baik disuatu hari, namun tak sadar ia telah menidurkan semangatnya untuk menyegarakan diri membangun kehidupan baik yang dicita-citakannya. Maka segerlah memulai untuk membaikkan kehidupan anda.

Mengingat hal itu saya jadi malu dan saya pun merespon sms teman saya tersebut denagan hal-hal, yang semoga saja, mampu membuatnya bersemangat lagi dan tidak perlu membuat konsep buruk tentang dirinya.